Makna Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabiul Awal 1442 H/29 Oktober 2020 di Masa Pandemi

Ilustrasi Maulid Nabi Muhammad SAW

Umat Islam di seluruh Indonesia saat ini sangat bersemangat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal 1442 Hijriyah/29 Oktober 2020. Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan satu dari hari besar umat islam, tak jarang disetiap tahunya  satu bulan penuh di bulan Rabiul Awal terdapat berbagai peringatan acara Maulid Nabi.

Dibulan Rabiul Awal atau bulan peringatan Maulid Nabi di anjurkan untuk Bersholawat atas Nabi, dan di anjurkan untuk memperbanyak bacaan sholawat nabi.  Dalam Al-Qur’an surah al-ahzab ayat 56 di anjurkan untuk membaca sholawat .

Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya”.

Dari ayat di atas dapat diartikan bahwa di anjurkan bagi umat Islam untuk bersholawat kepada nabi sebagai makna penghormatan kepadanya.

Maulid nabi saat ini dirasakan ditengah pandemic atau dimasa covid-19 yang telah melanda berbagai pelosok dunia, hingga menerpa 200 negara. Dampak dari pandemic ini menyebabkan banyak sector yang terganggu dalam beraktifitas seperti pendidikan, ekonomi, sosial, perhubungan, dan lain-lain. Banyak took-toko yang gulung tikar, pabrik-pabrik memberlakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan agen-agen travel terhenti.

Makna maulid nabi sebagai penghormatan dan pengingat kebesaran dan keteladanan nabi Muhammad SAW dengan berbagai bentuk kegiatan budaya, ritual dan keagamaan.

Meski begitu sampai saat ini masih ada kontroversi tentang peringatan tersebut di antara beberapa ulama yang memandang sebagai Bid’ah atau bukan Bid’ah. Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad juga menjadi penyemangat untuk menyatukan semangat dan gairah keislaman. Dikutip dari laman NU Online, perayaan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di bangsa Arab, menurut catatan Ahmad Tsauri dalam Sejarah Maulid Nabi (2015), perayaan Maulid Nabi sudah dilakukan oleh masyarakat Muslim sejak tahun kedua hijriah. Kala itu seorang bernama Khaizuran (170 H/786 M) yang merupakan ibu dari Amirul Mukminin Musa al-Hadi dan al-Rasyid datang ke Madinah dan memerintahkan penduduk mengadakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad di Masjid Nabawi.

Dari Madinah, Khaizuran juga menyambangi Makkah dan melakukan perintah yang sama kepada penduduk Makkah untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad. Jika di Madinah bertempat di masjid, Khaizuran memerintahkan kepada penduduk Makkah untuk merayakan Maulid di rumah-rumah mereka. Khaizuran merupakan sosok berpengaruh selama masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas (suami), Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra). Karena pengaruh besarnya tersebut, Khaizuran mampu menggerakkan masyarakat Muslim di Arab. Hal ini dilakukan agar teladan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Nabi Muhammad bisa terus menginspirasi warga Arab dan umat Islam pada umumnya.

Penulis : Ikrom

Photo: Tribunews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X